7 Kalimat yang Wajib Dihindari Agar Anak Percaya Diri (2)

Editor: tabloidnova.com / tabloidnova.com
Kamis, 26 Februari 2015
Foto :

Tabloidnova.com - Mendidik anak agar percaya diri sangatlah penting. Sayang, terkadang tanpa disadari, sikap orangtua justru menyebabkan sebaliknya.

Ternyata, banyak hal kecil yang bisa membuat buah hati berkecil diri dan merasa menjadi sosok yang tak diharapkan orangtua serta lingkungannya. Dampaknya bahkan bisa berlanjut hingga Si Anak beranjak dewasa, lo.

Agar buah hati tumbuh menjadi sosok yang mandiri, Ayoe Sutomo, M.Psi., dari Klinik Citra Ardhita Medifarma memaparkan tujuh kalimat yang harus dihindari agar anak percaya diri.

4. "Jalan-jalannya besok (dan besok) saja, ya ..."

Ingkar janji adalah tidak menjalankan komitmen yang sebelumnya telah disepakati bersama anak atau menunda sesuatu yang sudah dijanjikan pada anak sebelumnya.

Misalnya, orangtua mengatakan seperti ini. "Malam Minggu ini kita nonton bioskop, ya, Nak." Namun, setelah sampai malam Minggu, tidak jadi pergi menonton bioskop atau menunda menonton bioskop ke minggu depannya.

"Efek yang mungkin terjadi adalah anak tidak lagi percaya kepada orangtua dan lingkungan. Justru cenderung akan terbentuk pribadi yang meremehkan dan tidak menghargai komitmen, serta tidak dispilin."

Untuk menghindari dampak tersebut, sebaiknya orangtua berusaha menepati janji. Jika memang terpaksa sekali harus membatalkan janji atau mengundur realisasi pemenuhan janji, orangtua harus meminta maaf.

5. "Nak, bilang saja Mama tidak ada di rumah!"

Hal ini kerap kali diasosiasikan dengan berbohong untuk kebaikan (white lie). Namun apa pun alasannya, meminta anak untuk berbohong bukanlah hal yang dapat diterima.

Contoh yang sering terjadi, orangtua mengatakan, "Nak, kalau ada yang menelepon dan mencari Mama, bilang saja Mama tidak ada ya." Nah, bila itu dilakukan, anak kerap menganggap berbohong sebagai satu hal yang wajar, sehingga kerap menyelesaikan masalah juga dengan berbohong. Ingat bahwa anak peniru yang ulung. Pada akhirnya anak tidak menghargai nilai kejujuran.

Apa yang perlu dilakukan orangtua? "Meminta maaf dan menyampaikan alasan kenapa berbohong. Berikan penjelasan kenapa saat itu Anda meminta anak untuk berbohong. Mengakui bahwa apa yang dilakukan itu kurang tepat. Lalu, berusaha untuk tidak mengulangi lagi menjadi yang terpenting dalam hal ini."

6. "Kakak harus jadi juara 1!"
 
 

Menuntut anak untuk selalu menang adalah meminta ia untuk melakukan sesuatu berdasarkan standar orangtua. Misalnya dengan mengatakan, "Di semester ini Kakak harus juara 1, ya," atau "Besok lomba menyanyi, harus tampil yang bagus. Pokoknya harus juara 1."

"Efeknya, anak merasa tertekan, tidak bahagia, dan merasa tidak diterima apa adanya. Bahkan, cenderung mudah stres. Anak menjadi tidak percaya diri karena kurangnya penghargaan atas pencapaian yang berhasil didapat," papar Ayoe.

Agar anak percaya diri, segeralah orangtua meminta maaf bila Anda pernah melakukan hal tersebut. Yang perlu disadari orangtua adalah kebutuhan anak untuk diterima apa adanya, serta penghargaan atas sekecil apapun yang sudah ia capai.

Berikan pujian sesuai dengan apa yang mampu diraih oleh anak. Pujian yang berlebihan kerap memunculkan perasaan over pede pada anak yang berpengaruh terhadap kemampuan sosial anak nantinya.

7. "Hiiy... awas nanti ada monster!"

Intinya, menceritakan hal-hal menakutkan jika anak tak menuruti kehendak orangtua. Misalnya dengan mengatakan, "Nak, jangan ke sana nanti ada monster! Jangan keluar Nak, nanti diculik!"

Seringkali kebiasaan menakuti anak timbul karena ketidaksadaran orangtua dan faktor kebiasaan. Cara ini kerap dipilih karena "efeknya" akan langsung terasa oleh orangtua. Ketika mengatakan, "Jangan kesana, nanti ada monster." Sesaat itu juga anak akan berhenti melangkah. Itulah respons yang diharapkan orangtua.

"Kita perlu mengingat, pemberian kalimat-kalimat yang sifatnya mengancam akan lebih banyak membawa efek negatif pada anak dalam jangka panjang. Dengan kata-kata seperti itu, justru anak menjadi penakut, kerap ragu untuk melakukan sesuatu dan menjadi tidak mandiri. Anak cenderung merasa tidak percaya diri yang diakibatkan oleh banyaknya ketakutan-ketakutan yang ia miliki."

Jadi, agar anak percaya diri, hilangkan kebiasaan menakut-nakuti anak. Sebaiknya ubah kebiasaan memberi kalimat yang apa adanya, seperti "Di sini saja ya Nak, di luar banyak mobil yang lalu lalang."

Hilman Hilmansyah

Penulis : tabloidnova.com

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.