Masalah Perilaku dan Emosi Anak (1)

Editor: tabloidnova.com / tabloidnova.com
Jumat, 28 Agustus 2009
Foto :

Teman sekelas anak saya baru saja meninggal setelah sekian lama menderita kanker. Setelah kejadian itu, anak saya terus bertanya soal kematian dan mengaku amat kehilangan sang teman. Apa yang harus saya lakukan?
Kematian teman atau keluarga memang merupakan hal sulit bagi siapa saja. Bagaimana seorang anak menanggapi masalah kematian, sangat tergantung pada usia, kepribadian, serta pengalaman hidupnya.
Jika salah seorang temannya meninggal, mungkin ia akan merasa takut, jangan-jangan hal sama bakal terjadi pada dirinya. Untuk anak yang masih kecil, ia akan terus bertanya-tanya, ke mana si teman setelah meninggal.
Pikiran-pikiran seperti itu, jika terus berlanjut, bisa membuat anak merasa sedih, depresi, bingung, penasaran, dan perasaan lainnya. Akan sangat bijaksana jika orang tua berkata jujur dan menjawab dengan jelas semua pertanyaannya mengenai hal itu. Jangan hanya berujar, "Sudahlah, enggak usah dipikirkan" atau "Belum waktunya kamu tahu soal itu."
Memang, mungkin bukan hal mudah bagi orang tua karena mungkin kita juga tak punya semua jawaban yang pas dan memuaskan buat si anak. Tapi yang penting, ciptakan suasana yang membuatnya "puas" atas segala keingintahuannya, nyaman, terbuka, serta tak merasa takut atau murung berkepanjangan. Anda pun bisa berbagi masalah ini dari sisi spiritual/ agama, yang disampaikan dengan bahasa yang bisa dimengerti anak. Semua ini bisa membantu anak mengatasi perasaannya.

Saya ingin sekali mengajarkan anak-anak tentang pentingnya berbagi. Tapi, setiap kali saya minta mereka membagi barangnya (mainan atau baju) yang sudah tidak dipakai untuk anak sebayanya yang kurang beruntung, anak-anak saya menolak. Bagaimana caranya membuat anak-anak mengerti tentang pentingnya berbagi pada mereka yang tidak/ kurang mampu?
Kalau sudah menyangkut masalah berbagi, terutama barang-barang miliknya, anak memang kerap bereaksi seperti itu. Bahkan, sering terjadi, rasa memiliki anak pada sebuah benda kesayangannya, amat besar sehingga sulit baginya untuk "berpisah" dengan barang itu. Meski begitu, anak tetap harus diajarkan memiliki empati, bersedia menolong, dan mau berbagi.
Yang bisa dilakukan orang tua adalah mengajaknya bicara, menjelaskan kenapa ia harus berbagi. Misalnya, "Ada banyak orang yang tidak punya cukup uang untuk membeli mainan seperti kita. Bahkan untuk makan saja, mereka tak punya uang. Setahu Mama, kamu memang suka boneka itu tapi tak pernah dimainkan lagi karena bonekamu banyak sekali. Nah, bayangkan, deh, betapa senangnya temanmu yang miskin itu jika diberi hadiah boneka itu."
Jika anak sudah tergerak hatinya, biarkan ia memilih, mainan mana yang akan disumbangkan. Jangan paksa anak karena hal itu bisa membuatnya "kapok". Keluarkan, misalnya 4-5 mainan, lalu minta ia memilih dua di antaranya untuk disumbangkan. Jangan lupa memujinya jika si kecil sudah mau berbagi baju/ mainannnya. Sedapat mungkin, biarkan anak yang memberikan langsung sumbangannya sehingga ia merasa bangga dan belajar memahami betapa anak yang kurang mampu amat menghargai pemberiannya.

***

Penulis : tabloidnova.com

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.