Memetik Pelajaran dari Curhat Aurel dan KD di Instagram

Editor: Annelis Brilian / tabloidnova.com
Kamis, 3 September 2015
Foto : Instagram
Berbalas curhat Aurel dan KD masih menjadi sorotan di media massa.

Masih hangat dan menjadi pembicaraan, curhat Aurel dan Krisdayanti di Instagram. Dimulai oleh kekecewaan sang anak sulung karena Krisdayanti tak datang di ulang tahunnya ke-17, Titania Aurelie Nurhermansyah alias Aurel, lantas mencurahkan perasaannya di Instagram.

Baca: Aurel: "Aku Lelah Dibilang Anak Durhaka!"

Tak perlu menunggu lama, curhatan Aurel di Instagram pun bersambut. Sang ibu, Krisdayanti, turut mencurahkan perasaannya dan klarifikasi, juga melalui Instagram.

Baca: Merasa Dipermalukan, Krisdayanti Bela Raul Lemos

Diakhiri oleh postingan Azriel Akbar Hermansyah, anak kedua pasangan Krisdayanti dan Anang, yang membela sang kakak.

Baca: Jawab Komentar Ibunya, Azriel Minta KD Bersyukur Anaknya Tak Depresi

Segala kalangan kini keranjingan media sosial. Tak peduli status sosial, ekonomi, usia, jenis kelamin, maupun pekerjaan, rata-rata orang sudah mulai memasukkan aktivitas di media sosial sebagai kebiasaannya sehari-hari. Ditambah, kepemilikan ponsel pintar yang juga sudah merambah berbagai kalangan, membuat aktivitas di media online semakin membuat keranjingan, khususnya pada remaja.

Berdasarkan sebuah studi, sebanyak 80 persen remaja di dunia kini tak bisa hidup tanpa online dan menggunakan media sosial. Sebuah penelitian juga menyebutkan sejak ada media sosial, remaja masa kini lebih mudah menyampaikan perasaannya.

Media sosial memang bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, ini bisa menjadi sarana pencarian jati diri, ajang sosialisasi anak, serta tempat untuk dia menemukan dan mendalami apa yang menjadi kegemarannya. Namun di sisi lain, tak hanya bagi remaja, mudahnya mengakses media sosial membuat banyak privasi yang terumbar, serta terbukanya peluang bullying oleh orang tak dikenal.

Berkaca pada drama berbalas curhat Instagram antara Aurel dan KD, sebaiknya kita mengulas kembali batasan bermedia sosial:

Baca: Bagaimana Bila Ibu dan Anak Berteman di Media Sosial?

1. Pendampingan Bagi Anak

Instagram mengeluarkan peraturan bahwa siapa saja yang berusia 13 tahun ke atas dapat membuat akun dengan mendaftarkan alamat email dan memilih nama pengguna. Meski demikian, anak di bawah umur tetaplah membutuhkan pengawasan. Seperti apa? Disarankan, Anda ikut serta saat pembuatan akun Instagram dan sebaiknya Anda mengetahui password Instagram buah hati yang masih berusia di bawah 18 tahun.

Kemudian, sebaiknya orangtua juga ikut membuat akun Instagram untuk “mengawasi” aktivitas anak di Instagram.

2. Mengunci Akun

Khususnya untuk anak praremaja, bisa jadi instingnya belum terlalu kuat untuk membedakan siapa yang berniat baik atau sebaliknya, berniat jahat. Jadi sebaiknya kunci akun Instagram anak agar ia hanya berteman dengan orang-orang yang memang ia kenal di dunia nyata.

Memang, kecenderungan anak remaja memiliki kebanggaan apabila memiliki followers yang banyak di media sosial. Di sini, Anda memiliki kewajiban untuk memberikan pemahaman mengenai risiko-risiko mempersilakan orang tak dikenal yang masuk ke lingkaran pertemanan.

3. Tidak Memberi Informasi Detail

Tulisan foto (caption) seperti meninggalkan rumah untuk sekian hari, sedang jalan menjemput anak di sekolah, dan lainnya, sebaiknya tidak Anda unggah. Sampaikan juga pada anak untuk tidak memberikan informasi terlalu detail tentang kesehariannya, misal sekolah di mana dan pulang jam berapa, alamat rumah, nomor telepon, dan lain sebagainya.

Bagaimana pun, teks foto berfungsi sebagai tulisan yang menjelaskan isi foto. Instagram adalah media sosial yang memiliki konten visual sebagai keunggulan, sehingga meski ia tidak membatasi jumlah tulisan yang bisa diunggah, sebaiknya Anda menjaga caption foto tetap pendek agar tak mengganggu pengguna lain.

4. Tidak Mengumbar Masalah Pribadi

Curhat di media sosial pun sudah bukan hal langka. Maka ketika terjadi drama berbalas curhat Aurel dan KD di Instagram, pengguna lain lebih memerhatikan isi curhatnya ketimbang fakta bahwa mengunggah masalah pribadi di media sosial ini sangat tidak disarankan.

Pasalnya, bukannya selesai, masalah justru akan bertambah karena salah satu pihak tidak terima. Bagaimanapun, “peneguran” di media sosial akan membuatnya menjadi konsumsi publik dan pihak yang ditegur memiliki kecenderungan lebih sakit hati ketimbang bila ia ditegur secara pribadi.

Baca: Mengapa Orang Gemar Curhat di Media Sosial?

Sebagai orangtua, apabila anak curhat di Instagram, sebaiknya ingatkan bahwa masalah akan lebih cepat selesai apabila disampaikan secara langsung pada yang bersangkutan. Sementara apabila anak menceritakan masalah dengan ibunya di Instagram, sebaiknya tegur di rumah dan ajak bicara secara perlahan. Harus diakui, anak remaja memang memiliki pemikiran sematang orangtua, juga belum memiliki emosi stabil. Maka sebagai orangtua, kita yang harus menyelesaikan dengan kepala dingin.

5. Menghargai Orang Lain

Hal yang sering dilupakan di media sosial adalah menghargai orang lain. Dalam artian, sering kali kita memfollow atau difollow oleh orang yang tidak kita kenal sama sekali. Karena merasa tak pernah bertemu di dunia maya, ada rasa bebas untuk berkomentar seenaknya, bahkan yang tidak sopan atau menyinggung pihak lain.

Harus dipahami bahwa ancaman bullying di media sosial bisa lebih jahat ketimbang di dunia nyata. Dengan proses share yang mudah, pelau bully bisa dengan cepat bertambah dan berkata sesuka hati.

Agar tak jadi korban bully, mulai dengan selalu menjaga kalimat di kolom komentar atau caption, ungkapkan apa yang kira-kira bisa berani Anda ungkapkan di dunia nyata. 

Penulis : Annelis Brilian

Crafting words for Tabloid Nova since 2012.