Terkait Pola Asuh, Mengapa Orangtua Saling Bersaing?

Editor: tabloidnova.com / tabloidnova.com
Kamis, 29 Januari 2015
Foto :

anda anak

"Foto: Getty Images "

Persaingan orangtua yang seperti apa? Coba simak percakapan berikut. "Anakku, sih, umur 1 tahun sudah bisa jalan. Kok, anakmu masih merambat saja, sih? Padahal usianya sama, kan?" tanya Florencia kepada Elva. "Ya enggak apa-apa, lah, belum lancar jalan. Tapi, anakku sudah bisa bicara dengan fasih. Enggak kayak anakmu," jawab Elva.

Semua orangtua pasti pernah mengalami kejadian di atas, di mana anaknya dibandingkan dengan anak lain atau sebaliknya. Ada orangtua yang memilih tersenyum saja dan menganggapi dingin, ada pula orangtua yang memilih membalas ucapan dengan tak kalah sengit seperti Elva. Itulah gambaran persaingan orangtua yang tak jarang dihadapi.

Bangga Pada Anak

Benang merah dari fenomena saling membandingkan yang berujung pada persaingan orangtua atau competitive parenting ini adalah rasa bangga orangtua kepada anaknya.

Menurut Roswiyani, M. Psi., dari Pusat Bimbingan dan Konsultasi Psikologis, Universitas Tarumanegara, perasaan bangga orangtua terhadap anak dilandasi adanya kebutuhan alamiah individu untuk merasa berhasil atau menjadi superior (need of superiority).

"Orangtua merasa berhasil telah memiliki anak sebagai anugerah terindah dalam hidupnya. Perasaan berhasil ini menimbulkan rasa bangga dan kompeten. Terlebih ketika anak, dalam hal pertumbuhan, menunjukkan prestasi di luar harapan orangtua," terangnya.

Orangtua pun tak pelak merasa bangga karena anak adalah bagian dari dirinya. "Rasa bangga ini juga muncul karena orangtua berperan dalam mencapai kesuksesan anaknya."

Namun di samping itu, hobi membanggakan anak di depan orangtua anak lain ternyata memiliki latar belakang berupa kebutuhan akan pengakuan orang lain bahwa ia kompeten sebagai orangtua. "Kondisi ini terkait dengan upaya orangtua menjadi lebih bermakna di hadapan sosial sebab orangtua memiliki harapan ingin dianggap sebagai individu superior dan berhasil dalam mendidik anak."

Pengaruh Masa Lalu

Di samping itu, kebiasaan orangtua saling bersaing dan membanggakan anak juga dipengaruhi masa lalu. Sebagian memang dilandasi keinginan untuk menjadi orangtua yang lebih baik daripada orangtuanya terdahulu.

Kegagalan orangtua di masa lampau juga dapat memicu competitive parenting. "Orangtua mengompensasi kegagalan mereka kepada anak-anaknya kelak agar perasaan menjadi unggul tetap dapat ia capai melalui kesuksesan anak-anaknya."

Competitive parenting juga bisa timbul bila orangtua tersebut tumbuh sebagai individu yang kompetitif dalam segala hal. Alhasil, ketika individu kompetitif itu menjadi orangtua, mereka akan menerapkan perilaku bersaing ke dalam hubungan dengan anak-anaknya kelak. Lebih lanjut, muncul budaya orangtua saling bersaing dan membanggakan anak-anaknya pada yang lain. Inilah contoh need of superiority yang disinggung oleh Roswiyani sebelumnya.

Soca Husein

Penulis : tabloidnova.com

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.