Trauma Pesawat

Editor: tabloidnova.com / tabloidnova.com
Rabu, 13 Oktober 2010
Foto :

Saya ibu seorang putra berumur 2 tahun 3 bulan. Anak saya cukup sehat, lincah dan periang. Sejak anak saya berumur 2 bulan, kami punya kebiasaan berlibur ke luar kota paling tidak sekali dalam 3 bulan. Kalau jarak tempuhnya pendek (kurang dari 300 km) kami biasanya mengendarai mobil. Namun kalau lebih jauh dari itu, kami naik pesawat dan tidak ada masalah.

Namun beberapa hari yang lalu, ketika kami akan berlibur, saat pesawat mulai take off, anak saya tiba-tiba menangis histeris sambil mengatakan takut dan mendekap saya erat-erat serta minta segera turun. Anak saya baru berhenti menangis ketika pesawat mulai mendarat. Kelihatan sekali anak saya mengalami trauma. Kejadian ini berulang ketika kami harus kembali lagi ke kota asal.

Pertanyaan, apakah kejadian tersebut normal dialami balita. Apakah kejadian ini akan berulang terus setiap ia naik pesawat? Bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana cara memberi pengertian pada anak seusia ini?

Terima kasih untuk jawabannya.

Dewi - Jakarta

Kejadian tersebut masih wajar dialami anak usia balita. Mengapa di usia 2 tahun ini baru timbul rasa takut yang berlebihan saat naik pesawat terbang? Dugaan saya, suara menggelegar yang muncul pada saat pesawat akan tinggal landas ataupun saat mendarat membuatnya cemas dan kecemasan anak usia 2 tahunan terhadap suara keras lazim terjadi. Pada usia sebelum 2 tahun, rasa cemas terhadap suara keras belum muncul pada anak karena belum ia sadari sepenuhnya. Dengan adanya perkembangan kemampuan anak dalam berpikir, maka suara keras menjadi sesuatu yang masuk dalam kesadarannya. Selain itu suara keras bisa ia asosiasikan dengan suatu pengalaman yang tidak menyenangkan. Ibu perlu mengingat-ingat apakah anak pernah mengalami peristiwa yang sangat mencengkam perasaannya?

Seharusnya bila diatasi dengan baik, kecemasan ini akan menghilang dengan berjalannya waktu. Hal penting lainnya adalah tetap berusaha menenangkan dan mendekap anak saat ia ketakutan dan tidak menyepelekan rasa cemasnya tersebut. Ucapkan pernyataan yang membuatnya menjadi tenang, misalnya, "Bunda tau kamu takut, jantung kamu berdebar-debar". Kemudian berikan masukan pada anak bahwa setelah hal yang menakutkan muncul, ternyata tidak ada kejadian yang harus ia cemaskan. Melalui pembuktian yang terus-menerus maka nalarnya akan bekerja dan rasa takut dapat ia atasi.

Penulis : tabloidnova.com

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.