Sering Cekcok dengan Pasangan Bisa Memicu Kegemukan, Lho!

Editor: tabloidnova.com / tabloidnova.com
Jumat, 14 November 2014
Foto :

TabloidNova.com - Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa hubungan yang sering terlibat pertengkaran bisa berakibat pada melambatnya proses metabolisme, khususnya disebabkan faktor depresi. Dengan kata lain, sering cekcok dengan pasangan bisa memicu kegemukan, lho!

Dalam studi tersebut, 43 pasangan menikah yang harmonis diteliti kepuasan hubungan pernikahannya selama 3 tahun terakhir. Peneliti ingin mengetahui perubahan mood serta gejala depresi yang mungkin dirasakan. Selanjutnya, para peneliti menyediakan lima makanan tinggi lemak yang dirancang sebagai makanan tipe makanan cepat saji.

Setiap 20 menit selama 7 jam terakhir setelah makan, peneliti menyampaikan berapa kalori yang dibakar oleh masing-masing partisipan. Mereka juga mengambil sampel darah untuk memeriksa kadar insulin yang sangat berkaitan dengan penyimpanan lemak tubuh.

Lemak pada darah akan meningkatkan risiko terhadap penyakit jantung dalam persentase cukup besar. Saat proses pengamatan, para peneliti meminta kepada pasangan untuk berdiskusi secara pribadi untuk mencoba menelaah topik apa saja yang umumnya menjadi pemicu pertengkaran.  

Peneliti juga merekam dan melihat hasil diskusi, baik secara verbal maupun nonverbal sebagai variabel analisa. Percekcokan bisa dideteksi dari beberapa perilaku seperti aksi menjengkelkan oleh pasangan, perhatian yang buruk, mimik muka tidak senang, mata melotot, penggunaan kalimat "pedas", dan sebagainya.

"Beradu argumen secara nyata bisa berujung pada permusuhan di antara pasangan. Bahkan hal kecil bisa menjadi besar biasanya dimulai oleh beda pendapat," ujar Jan Kiecolt-Glaser, psikiater sekaligus professor di Institute Behavioral Medicine Research di Unversitas Ohio.

Permusuhan dengan pasangan merupakan gejala atau riwayat gangguan mood yang biasanya membakar rata-rata 31 kalori per jam, yang sama dengan kenaikan bobot tubuh kira-kira 6 kilogram dalam setahun. Namun, tubuh juga memiliki kadar insulin yang lebih tinggi hingga dua jam setelah makan, yang memicu keinginan untuk makan dan meningkatkan risiko obesitas. Mereka yang depresi juga memungkinkan terjadinya peningkatan kadar trigliserida.

Ketika trigliserida masuk dalam tubuh melalui makanan, bentuknya bisa berubah menjadi sel-sel lemak jika tidak ditransfer menjadi energi. Jika jumlah trigliserida berlebihan, sel-sel lemak bisa menyumbat pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk jantung dan stroke. Kelebihan trigliserida juga memengaruhi kinerja pankreas.

Kiecolt-Glaser mengatakan bahwa percekcokan umumnya memicu stres, dan para peneliti tahu bahwa peningkatan level hormon stres berpengaruh terhadap detak jantung, tekanan darah tinggi, sistem ketahanan tubuh, dan penyembuhan. Stres juga bisa memperlambat metabolisme tubuh.

"Jika Anda berpikir tubuh Anda cukup sehat karena secara klinis tidak mengalami depresi, tidak menikah, atau karena mengonsumsi makanan super sehat, berpikir ulang lah! Hubungan yang buruk bisa memengaruhi kesehatan, meskipun Anda biasa mengonsumsi makanan yang sehat," papar Kiecolt-Glaser.

Lebih lanjut, Kiecolt-Glaser menyarankan, jika ingin melindungi tubuh dari penyakit yang disebabkan pertikaian hubungan, sebaiknya jaga dan jalin komunikasi secara terbuka dan baik. Pikirkan kembali, apakah hubungan Anda cukup berarti sehingga harus mengorbankan kesehatan. Kesehatan tidak cukup ditunjang oleh kondisi jasmani, tapi juga rohani.

Ridho Nugroho / Cosmopolitan

Penulis : tabloidnova.com

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.