Setiap Jam, Ada Perempuan Meninggal Karena Kanker Serviks

Editor: tabloidnova.com / tabloidnova.com
Jumat, 6 Februari 2015
Foto :

Isu Spesial KSHT 1

"Foto: Getty Images "

Tabloidnova.com - Tanggal 4 Februari lalu diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia. Penyakit satu ini memang menjadi momok yang menakutkan. Khususnya untuk wanita, dua jenis kanker yaitu kanker serviks (KS) atau kanker mulut rahim, menjadi jenis kanker yang angka kejadiannya terhitung lebih tinggi.

"Di Indonesia setiap 1 jam perempuan meninggal karena kanker serviks. Dan dalam 2 jam, 3 perempuan terdiagnosis kanker serviks," kata dr. Virgi Saputra, Operational Manager & Marketing Manager Kalgen Laboratory, Jakarta.

Selain itu, kanker payudara tak kalah menakutkannya bagi perempuan. Karenanya diperlukan deteksi dini, melakukan tes, atau vaksin. Saat ini makin banyak perempuan yang sadar dengan kesehatannya dan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sejak awal, serta rajin check up.

"Bagi perempuan berusia 35 tahun, minimal setahun sekali sebaiknya melakukan kontrol dan follow up. Apalagi setelah melakukan SADARI, merasakan ada benjolan atau sesuatu yang lebih keras di payudara. Periksa dan pastikan apakah yang diraba itu hanya jaringan lemak saja atau malah ke arah yang lebih parah," terang dr. Felly Sahli, Sp. Rad., Koordinator Unit Radiodiagnostik MRCCC Siloam Hospitals. 

Tingginya angka perempuan yang meninggal karena kanker serviks sebenarnya bisa ditekan. Virgi menyebutkan, pra kanker bisa dicegah dengan baik. "Penanganannya dengan cara melakukan vaksin dan deteksi dini kanker secara beriringan. Disarankan bagi perempuan melakukan vaksin sejak usia 9 tahun atau 11-12 tahun, sampai usia 26 tahun vaksin sangat efektif. Ada dua vaksin, yaitu bivalen untuk virus 16 dan 18 saja. Sedangkan vaksin quadrivalen selain 16, 18 juga 6 dan 11 yang ke arah kutil kelamin."

Vaksin HPV adalah partikel mirip virus, jadi tubuh seperti dikelabui. "Dengan melakukan vaksin diharapkan tubuh memiliki antibodi untuk melawan partikel tersebut. Jadi, ketika melakukan kontak seksual atau sudah tertular virus, wanita sudah bisa melawannya."

Meski sudah divaksin, wanita yang sudah melakukan kontak seksual tetap perlu melakukan deteksi dini kanker sama seperti mereka yang belum divaksin. Karena vaksin hanya melindungi tipe HPV yang menyebabkan 70-80% kanker serviks. "Berbeda dengan perempuan yang belum melakukan kontak seksual, bisa melakukan vaksin tidak perlu deteksi dini karena masih perawan."  

Lalu, bagaimana jika belum pernah divaksin, tapi sudah melakukan kontak seksual? "Vaksin tetap memberikan manfaat pada kelompok tersebut. Tapi, vaksin itu sifatnya pencegahan bukan terapetik, jangan diharapkan bisa mengusir virus yang sudah telanjur ada. Berarti, sebaiknya melakukan deteksi dini dulu dengan tujuan melihat kondisi awal sel serviks dan apakah sudah terinfeksi HPV atau belum. Deteksi dini bisa dilakukan dengan cara sitologi papsmear dan HPV DNA," ujar Virgi.

Pemeriksaan HPV DNA terdiri dari 2 pemeriksaan, yaitu genotype dan non genotype.  "Dengan HPV DNA genotype bisa diketahui tipe seperti apa yang ada. Begitu ketahuan tipenya seperti apa, dokter bisa memberi arahan penanganannya. Jika bukan kanker serviks, bisa divaksin."

Vaksin diberikan sebanyak tiga kali. Selang antara suntikan pertama dan kedua adalah sekitar 1-2 bulan. "Barulah suntikan ketiga 6 bulan."

Hanya saja, vaksin tidak boleh diberikan kepada ibu hamil. "Jika jedanya terlalu lama, misalnya, lupa, tidak perlu diulang lagi, tapi bisa dilanjutkan kekurangannya," kata Virgi sambil mengatakan suntikan dilakukan di lengan. "Efeknya paling hanya terasa nyeri akibat suntikan saja. Tidak menimbulkan demam."

Melalui vaksin yang diberikan secara disiplin, diharapkan angka perempuan meninggal karena kanker serviks pun bisa ditekan dan tak terus meningkat.

Noverita K. Waldan

Penulis : tabloidnova.com

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.