Penyebab Air Ketuban Rusak Sebelum Melahirkan dan Bahayanya Untuk Bayi

Editor: Ade Ryani HMK / tabloidnova.com
Kamis, 5 Januari 2017
Foto :
Apa yang terjadi jika air ketuban rusak dan bahayanya pada bayi didalam perut?

Salah satu pelindung bayi dalam kandungan adalah air ketuban. Air ketuban inilah yang menjaga bayi dari infeksi, menghangatkan bayi dalam kandungan, mendukung perkembangan paru-paru, sistem pencernaan, tulang, dan otot  bayi, serta dapat membuat bayi bebas bergerak dalam kandungan.

Semua fungsi air ketuban ini dapat bermanfaat bagi bayi jika air ketuban normal, tetapi jika air ketuban rusak, maka dapat mengganggu perkembangan dan kesehatan bayi dalam kandungan.

Air ketuban normal biasanya mempunyai ciri-ciri:

  • Cairan bening atau berwarna agak kekuningan, mempunyai bercak putih, dan/atau ada lendir atau darah
  • Tidak berbau
  • Terasa hangat

Sedangkan air ketuban yang sudah rusak biasanya keruh dan berwarna hijau atau kecoklatan.

Baca: 5 Alasan Kulit dan Otot Vagina Harus Digunting Saat Persalinan

Apa penyebab air ketuban menjadi rusak?

Banyak faktor yang dapat menyebabkan air ketuban rusak, seperti infeksi, bayi terlalu lama di dalam kandungan (usia kehamilan sudah melewati 42 minggu), atau masalah pada bayi.

Air ketuban yang sudah berwarna hijau atau kecokelatan biasanya disebabkan karena mekonium, yaitu feses pertama bayi. Biasanya, bayi mengeluarkan feses pertamanya setelah lahir.

Namun, dalam kasus ini, bayi sudah mengeluarkan feses pertamanya terlebih dahulu, saat masih dalam kandungan.

Baca: 3 Perubahan Vagina Setelah Melahirkan Mana yang Anda Alami?

Apa yang menyebabkan mekonium ada di cairan ketuban?

Mekonium bisa dikeluarkan bayi saat masih berada di dalam kandungan ketika bayi stres. Saat bayi stres, terjadi peningkatan aktivitas usus bayi dan relaksasi otot sfingter anal (katup otot yang mengontrol feses keluar dari anus).

Hal ini menyebabkan feses pertama bayi keluar ke dalam air ketuban.

Stres bisa saja terjadi pada bayi karena bayi tidak mendapatkan pasokan darah yang mengandung nutrisi dan oksigen yang cukup. Hal ini bisa disebabkan oleh masalah pada plasenta atau tali pusar.

Baca: 3 Ciri Khas Seorang Ibu Mengalami Baby Blues Setelah Melahirkan

Stres juga bisa disebabkan oleh:

  • Infeksi
  • Plasenta yang sudah tua, jika usia kehamilan sudah sangat jauh dari tanggal seharusnya bayi lahir
  • Kesulitan dalam melahirkan atau proses melahirkan berjalan dalam waktu lama
  • Diabetes gestasional
  • Tekanan darah tinggi pada ibu hamil

Baca: Ingin Kulit Bebas Selulit Usai Melahirkan? Konsumsi 7 Makanan Ini

Bagaimana jika bayi menghirup mekonium?

Mekonium yang masuk ke paru-paru bayi melalui air ketuban dapat menyebabkan masalah pernapasan serius yang disebut dengan sindrom aspirasi mekonium, terutama jika mekonium dalam air ketuban sangat kental.

Sindrom aspirasi mekonium ini bisa terjadi sebelum, selama, dan setelah kelahiran ketika bayi menghirup air ketuban yang tercampur dengan mekonium.

Mekonium bisa terhirup sebagian atau seluruhnya ke paru-paru bayi selama masih dalam kandungan atau saat melahirkan.

Hal ini menyebabkan mekonium menyumbat saluran pernapasan bayi. Akibatnya, terjadi pembengkakan di saluran pernapasan bayi yang menyebabkan bayi sulit bernapas.

Semakin banyak mekonium yang terhirup oleh bayi, maka semakin parah kondisi bayi.

Baca: Sebelum Melahirkan, Lakukan 3 Hal Ini Agar Tak Kesulitan Saat Menyusui

Bagaimana tanda bayi sudah menghirup mekonium?

Beberapa bayi mungkin tidak menghirup mekonium dalam air ketuban selama proses kelahiran, sehingga mereka tidak bermasalah.

Namun, bayi yang menghirup mekonium selama dalam kandungan atau saat kelahiran akan menunjukkan beberapa gejala, seperti:

  • Terdapat mekonium atau noda hijau gelap dalam air ketuban
  • Warna kulit bayi menjadi kebiruan (sianosis)
  • Bayi berusaha lebih keras untuk bernapas, seperti mengeluarkan suara berisik saat bernapas, mendengus, menggunakan otot tambahan saat bernapas, kesulitan bernapas, atau bernapas lebih cepat
  • Denyut jantung bayi menurun saat masih dalam kandungan
  • Bayi terlihat lemah saat baru lahir
  • Tanda-tanda bayi terlambat untuk dilahirkan, seperti kuku bayi yang panjang

Baca: Perempuan Ini Habiskan Rp700 Juta Untuk Persalinan Mewah, Apa Saja Fasilitasnya?

Apa yang harus dilakukan jika bayi menghirup mekonium dalam air ketuban?

Jika air ketuban Anda pecah dan mengeluarkan cairan berwarna hijau, segeralah beri tahu dokter Anda.

Pada saat Anda memeriksakan kandungan Anda, dokter juga akan selalu memantau detak jantung bayi guna mengetahui keadaan bayi dalam kandungan, termasuk apakah bayi menghirup mekonium atau tidak. Jika bayi sudah menghirup mekonium dalam kandungan, denyut jantung bayi akan melemah.

Jika terlihat tanda-tanda adanya mekonium dalam air ketuban, dokter mungkin merekomendasikan amnioinfusi untuk mengurangi kekentalan mekonium dalam air ketuban sebelum bayi menghirupnya saat lahir.

Sedangkan, jika bayi sudah menghirup mekonium dalam air ketuban, bayi mungkin perlu perawatan khusus setelah lahir. Hal ini tergantung dari seberapa banyak mekonium yang dihirup bayi dan seberapa parah kondisi bayi.

Jika bayi yang baru lahir masih aktif dan terlihat baik, dokter akan memantau bayi lebih lanjut. Jika bayi yang baru lahir tidak aktif dan memiliki denyut jantung yang rendah, dokter mungkin akan membersihkan saluran napas bayi dari mekonium.

Sebagian bayi dengan sindrom aspirasi mekonium akan membaik keadaannya dalam beberapa hari atau minggu setelah kelahiran, tergantung tingkat keparahan kondisi bayi.

Sumber: HelloSehat

Penulis : tabloidnova.com

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.