Begini Cara Selebriti Pilih Sekolah Anak

Editor: tabloidnova.com / tabloidnova.com
Selasa, 27 Januari 2015
Foto :

RAMZi

"Foto: Ahmad fadilah / Dok NOVA "

Nizam

"Foto: Tribunews "

alena wu

"Foto: Dok Pri "

Ramzi Jarak Bukan Masalah

Jarak bukanlah halangan untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Setidaknya, hal itulah yang dilakukan aktor dan presenter kocak, Ramzi (38) untuk buah hatinya, Asila Maisa Fatihah (9). Bayangkan saja, Ramzi menyekolahkan putri semata wayangnya itu di sekolah bertaraf internasional di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Sementara rumah mereka terletak di bilangan Duren Sawit, Jakarta Timur. Setiap pagi, Asila menempuh waktu 1,5 jam perjalanan untuk sampai di sekolahnya. Itu pun, kata Ramzi, selalu lewat jalan tol.

Sampai duduk di kelas 3 SD sekarang ini, Asila belum pernah mengeluh lantaran jarak dari rumah ke sekolahnya terlalu jauh. "Sampai saat ini, saya enggak pernah dengar Asila mengeluh karena masalah jarak yang terlalu jauh dari rumah. Justru anaknya suka banget sekolah di sana. Kalau sebatas bete, susah dibangunin, atau ngantuk, menurut saya masih dalam tahap wajar. Tapi kalau Asila ngomong serius, 'Abi atau Mami, (sekolahnya) kejauhan, nih, aku capek,' itu enggak pernah," kata suami Avi Basalamah ini.

Awalnya, lanjut Ramzi, keputusannya menyekolahkan Asila di sekolah umum, bukan berbasis agama, banyak dipertanyakan saudara atau pun sahabat dekatnya. Namun, aktor yang kerap tampil dengan aksen Betawi ini punya jawaban sendiri.

"Enggak harus (dimasukan ke sekolah Islam) karena meski bersekolah di sekolah berbasis agama juga, kami tetap harus yang mengajarkan anak soal agama. Aku dan Avi punya prinsip, untuk mengajarkan Asila urusan agama, ibadah, dan lain-lain, yang paling efektif, tuh, ya, di rumah. Saya sebagai orangtua harus memberikan contoh yang baik, seperti sejak Asila bayi, baru bisa duduk atau merangkak, aku dan Avi sebisa mungkin selalu salat di depan dia, atau paling tidak dia melihat (orangtuanya salat). Alhamdulillah, sampai sekarang, sudah ada hasilnya, tanpa perlu disuruh lagi (Asilah sudah salat). Nah , nanti di luar (rumah), dia tetap harus bisa bersosialisasi sama orang lain. Dia nanti ketemu sama orang yang modelnya seperti ini, asalnya dari sini, situ," ujar Ramzi yang bersyukur perkembangan Asila sangat pesat setelah sekolah di sana. "Walapun sekolah internasional, di sana tetap ada pelajaran agamanya yang cukup maksimal. Dua kali dalam seminggu ada pelajaran Iqro."

Sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut, Ramzi dan Avi juga sudah survei di beberapa sekolah yang lain. Namun, setelah mendengarkan testimoni dari adik Avi yang sudah lebih dulu menyekolahkan anaknya di sana, Ramzi dan Avi pun langsung sepakat mendaftarkan Asila di sekolah yang sama. "Karena kami sudah mendapatkan informasi yang lengkap dari adiknya Avi, soal sistem pendidikannya, kurikulumnya, seperti apa pola pengajarannya, kegiatannya, atau pergaulan anak-anaknya. Informasi yang kami dapat cukup lengkaplah."

Selain itu, lanjut Ramzi, menyekolahkan anak di sekolah tersebut rupanya sudah jadi cita-cita mereka sejak sebelum punya anak. "Jujur, ya, saya sama Avi, waktu dia lagi hamil Asila, bahkan waktu masih pacaran, kalau lewat situ, dari masing-masing dalam hati 'ah nanti gue mau anak gue sekolah di sini,' Avi juga ternyata gitu. Jadi memang, bisa dibilang kami sekolahin Asila di situ keinginan orangtua. Kalau ada yang nanya bagus enggak? Itu relatif, ya. Tapi untuk sementara ini saya titipin Asila di situ, cukup baik," aku Ramzi.

Nizam Utamakan Bahasa Inggris

Fasilitas, bahasa pengantar, dan jarak dari rumah tentu menjadi kriteria yang harus dipenuhi saat artis cilik, Nizam Zayla Ali (9) mencari sekolah empat tahun silam. Kepada Sang Bunda, Risma, artis cilik yang melejit namanya lewat sinetron Baim Anak Soleh ini secara khusus minta bersekolah yang bahasa pengantarnya Bahasa Inggris. "Nizam memang pengin bisa Bahasa Inggris. Jadi, ya, kami cari sekolah yang (bertaraf) internasional. Sebagai orangtua pasti kami ingin memberikan yang terbaik untuk pendidikan anak, itu saja, sih, point-nya," jelas Risma.

Setelah sempat survei 2-3 sekolah, Risma dan Nizam akhirnya memutuskan untuk mendaftar di sekolahnya sekarang di kawasan Sunter, Jakarta Utara. "Selain memang ingin bahasa pengantarnya Bahasa Inggris, sekolah Nizam ini juga dekat dengan rumah. Jaraknya hanya 10-15 menit dari rumah. Fasilitas dan keamanannya pun cukup bagus," kata Risma yang pada dasarnya memang tak mau sekolah anaknya terlalu jauh dari rumah. "Pasti repot dari segi waktu dan tenaga. Kalau dekat, kan, gampang ngeceknya kalau ada apa-apa."

Risma juga menceritakan saat masa transisi dari TK ke SD tidak ada kendala yang berarti yang dialami Nizam. "Nizam awalnya enggak bisa Bahasa Inggris sama sekali karena dari TK memang tidak diajarkan. Jadi begitu masuk SD langsung full Bahasa Inggris untuk semua mata pelajarannya. Alhamdulillah, karena memang anaknya pintar dan aktif bertanya, jadi gampang menyesuaikan diri. Dia juga bisa cepat menangkap pelajaran. Dan dari kelas 1 sampai sekarang kelas 4, masuk (ranking) 3-5 besar," ungkap Risma bangga.

Risma pun mengaku puas melihat perkembangan putranya saat ini, meski disibukkan dengan jadwal syuting, Nizam, masih bisa berprestasi di sekolah. Ia memegang prinsip bahwa pendidikan harus nomor satu. "Kalau ada jadwal syuting, saya selalu atur setelah jam pulang sekolah. Dan mengingat jam pelajarannya dari pukul 08.00-14.00 WIB, Nizam tidak pernah saya beri les di luar sekolah. Pihak sekolah sendiri yang mengadakan tambahan jam pelajaran hanya ketika menjelang ujian sekolah aja," imbuhnya.

Selanjutnya, Risma pun mulai mencari-cari referensi SMP yang juga menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Karena di sekolah Nizam saat ini, baru ada tingkat PG-TK-SD. "Karena tidak ada SMP-nya, mau tidak mau harus mencari sekolah lain. Namun tetap yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Karena sayang kalau tidak diteruskan," sahut Risma yang menyebut salah satu kelebihan sekolah anaknya ini juga adanya komunikasi yang terbuka dengan para guru.

"Setiap hari dari sekolah ada semacam buku diari. Itu sebagai bentuk komunikasi antara orangtua dan guru. Kalau ada kegiatan apa atau PR yang harus dikerjakan, ditulis di situ, kami pun kalau ada perlu apa, bisa dikomunikasikan lewat buku diari itu atau kalau masih belum jelas, kami punya akses langsung menelepon gurunya di kelas."

Ia melihat Nizam betah bersekolah di sana. Hal itu terlihat dari rajinnya ia mengerjakan pekerjaan rumah dan tak pernah mau bolos sekolah. "Kalau ada home work, dia kerjakan sendiri. Nanti kalau sudah selesai, baru saya periksa. Anaknya juga terlihat sangat enjoy bersekolah di sana. Bahasa Inggrisnya pun semakin lancar," tutup Risma.

Alena Wu Terpikat Metode Ajar

Alena Wu (34) mengaku sangat selektif saat memilihkan sekolah untuk putranya, Neo Kolla Fauza (3). Maklum saja, sebagai ibu muda, ia ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk Kolla. Penyanyi asal Malang, Jawa Timur ini pun bahkan rela survei ke sekolah-sekolah untuk mencari yang terbaik dan cocok dengan anaknya. "Iya aku sempat melihat beberapa sekolah, kalau tidak salah sampai 7 sekolah. Lihat sana-sini enggak keru-keruan. Mau masukin sekolah anak, sudah biayanya mahal tapi kalau (guru) ditanya soal kurikulumnya seperti apa, sistem belajarnya bagaimana? Eh, dijawab, 'ya kalau umur segini (balita), mah, cuma main-main aja Bu, enggak belajar.' Lah, ngapain aku bayar mahal kalau cuma main-main," cerita Alena.

Lalu penyanyi yang pernah merilis album dengan namanya sendiri ini pun tertarik dengan metode pendidikan sekolah montessori. Apalagi, dari sebelum nikah dan punya anak, ia yang hobi membaca ini, sudah banyak mengetahui tentang metode montessori, yang menekankan pada kemandirian, kebebasan dengan batasan tertentu, dan menghargai perkembangan anak sebagai individu yang unik. Alena juga terpikat dengan kegiatan belajar di sekolah tersebut yang mengajarkan anak untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menciptakan suasana kerja sama dengan teman-teman mereka.

"Jadi aku pengin banget anakku sekolah di montessori dari kecil. Karena di sekolah montessori ini bukan mengajari si anak baca dan tulis tapi segala hal, seperti mengambil dan meletakkan mainannya kembali di tempat semula, buang sampah pada tempatnya, tidak rebutan dengan teman-temannya, melatih kemandirian, apa-apa dilakukan sendiri," jelas istri penata musik, Popo Fauza ini.

Bagi Alena, sistem pendidikan yang tepat untuk si kecil merupakan hal yang utama. Ia bahkan tak melihat fasilitas sekolah sebagai suatu hal yang juga harus dipertimbangkan. "Aku enggak terlalu mementingkan fasilitas sekolah, enggak perlu yang misalnya punya kolam renang sendiri atau apa. Yang terpenting, ya, cara belajarnya itu. Di sekolah anakku ini, sebenarnya sederhana cuma spesifik di mainannya. Semuanya terbuat dari kayu. Mainan-mainan itu bisa membuat anak berpikir kritis dan melatih anaknya untuk nanti sampai bisa menulis. Jadi belajar dengan bermain, itu ciri khas montessori," ungkap Alena yang juga merasa keamanan di sekolah itu sangat diperhatikan. "Misalnya kalau murid belum ada yang jemput, anaknya 'ditahan' di dalam kelas bareng sama guru-gurunya. Jadi mereka baru 'melepas' anaknya kalau sudah ada mama-papa atau suster dan supir yang jemput."

Tak hanya Kolla yang dapat pendidikan di sekolah itu, Alena pun merasa banyak mendapat pelajaran dari guru-guru di sana. Karena orangtua memang disediakan waktu jika ingin berdiskusi tentang perkembangan anak mereka di rumah. "Aku percaya kalau mendidik anak itu bukan melulu anaknya. Jadi kita pun belajar, orangtua juga belajar dari guru-gurunya karena, kan, waktu anak lebih lama bersama orangtuanya dibanding sama gurunya. Dan aku lihat perkembangan Kolla terasa banget. Dari pengertiannya, kemandiriannya," bangga Alena yang berencana akan memasukkan Kolla ke SD montessori juga.

Sri Isnaeni/Tabloidnova.com

Penulis : tabloidnova.com

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.

Populer